Autism is not a Joke! Campaign #3

November 22, 2015

Duta Peduli Autis di Sekolah SMA Bina Kusuma dalam
Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia 


 




Kelas     : LA46
Dosen    : Christan Siregar 
Pukul     : 07.00 s/d 08.00 WIB
Lokasi   : SMA Bina Kusuma, Kalideres

Daftar Hadir
Ketua : Felicia Yufi
Anggota : 
1. Amelia Andriani
2. Devona
3. Ellyani Ngadina
4. Hendry
5. Hilda Kosasih
6. Kelvin Tanidja
7. Ronaldo Yolanda

Pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Tuhan YME sama dan sederajat, tidak ada yang lebih tinggi, maupun yang lebih rendah.  Namun, tidak semua manusia hidup dengan kesempurnaan. Setiap manusia juga memiliki keterbatasan yang berbeda-beda dalam dirinya. Salah satu contohnya adalah penderita autisme. Autisme merupakan gangguan perkembangan psikologis yang kompleks yang ditandai dengan kesulitan dalam berinteraksi sosial, berkomunikasi, perilaku yang terbatas, berulang-ulang, dan karakter stereotik. Autisme bukanlah suatu penyakit kejiwaan maupun penyakit menular, hal ini karena autisme merupakan gangguan yang terjadi pada saraf otak, sehingga menyebabkan autisme mengalami pertumbuhan psikologis yang lebih lambat.

Penderita autisme akan lebih jelas terlihat saat berkumpul dengan anak sebaya. Saat bermain, si penderita tidak bisa berinteraksi atau bermain bersama, apalagi dengan alat permainan yang sama. Ketidakstabilan perasaan, perubahan emosi yang tiba-tiba seperti ledakkan tertawa atau menangis tanpa sebab yang jelas, adalah juga gejala-gejala autisme. Secara garis besar, terdapat tiga ciri utama yang muncul sebelum berumur tiga tahun, yaitu interaksi sosial dan perkembangan sosial yang abnormal, tidak terjadinya perkembangan komunikasi yang normal, minat serta perilakunya terbatas dan berulang-ulang.

Di zaman sekarang ini, banyak sekali orang yang menggunakan kata autisme sebagai sebuah candaan maupun ejekan, khususnya di kalangan pelajar. Meskipun hal ini hanyalah sebuah candaan semata, namun hal ini juga dapat melukai perasaan seseorang, khususnya mereka yang mengalami gangguan autisme maupun yang memiliki kerabat atau saudara yang menderita autisme. Oleh karena itu, hal ini menjadi dasar bagi kami untuk mengadakan kampanye yang bertema “Autism Is Not A Joke”. Melalui kampanye ini, kami ingin memberikan pengarahan bahwa autis bukanlah sebuah bahan candaan, melainkan penderita autis harus diberikan dukungan dan perhatian yang lebih. 


Pada kampanye selanjutnya, kami melakukan kampanye dengan siswa kelas XI SMA Bina Kusuma, Kalideres. Kami berkumpul di kampus Binus pada pukul 06.00. Perjalanan yang kami lalui mengalami sedikit hambatan, namun kami dapat sampai sebelum waktu yang ditetapkan. Setelah sampai, kami langsung bertemu dengan Bu Lian selaku guru Bimbingan Konseling. Kami juga disambut hangat oleh Kepala Sekolah dan guru-guru setempat. Setelah sedikit berbincang, kami segera diantarkan menuju kelas XI. Kami mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan kampanye kami. Sambil mempersiapkannya, kami membagikan sebuah buku kepada masing-masing siswa yang berisi tentang autisme sehingga mereka dapat memahami tentang autisme. Setelah semua persiapan selesai, kami segera memulai kampanye dengan menyampaikan sebuah presentasi yang terkait dengan autisme. Seperti biasa, kami juga memutarkan sebuah video tentang autisme. Makna dari video ini yaitu mengajak para siswa untuk berhenti menggunakan kata-kata “autis” sebagai sebuah bahan candaan sehari-hari. Setelah video selesai diputar, kami mengadakan sebuah games yang berhubungan dengan “Autism Is Not A Joke”. Bagi mereka yang kalah dalam games ini, ditugaskan untuk membuat sebuah drama yang bertema “Autism Is Not A Joke”.

Kami pun juga meminta dua orang perwakilan dari mereka untuk menyampaikan kesan pesan mereka untuk mengetahui apa yang mereka dapatkan melalui kegiatan kampanye yang kami lakukan. Kedua siswa tersebut adalah Rangga dan Jesslyn. 

 Pesan yang disampaikan oleh Rangga adalah jangan mengejek seseorang yang menderita autis ataupun menggunakan kata autis sebagai sebuah candaan karena autis juga sahabat kita yang juga mempunyai perasaan sama seperti kita. 
 
Sedangkan pesan yang disampaikan oleh Jesslyn yaitu jangan menggunakan kata autis sembarangan karena dapat melukai perasaan penderita autis maupun orang terdekat penderita autis.


Setelah disampaikan beberapa presentasi mengenai autis, banyak para siswa yang tertarik untuk mendaftarkan diri menjadi Duta Autisme, yaitu sebanyak 14 orang dari 15 orang. 

Selain itu, mereka juga menjadi sadar bahwa autis bukanlah sebuah candaan. Melalui kampanye ini, kami sangat bersyukur karena apa yang kami sampaikan dapat membawa pengaruh baik bagi para siswa Bina Kusuma sehingga mereka mau berpartisipasi menjadi Duta Autisme. Pada kampanye kali ini, semua anggota hadir tepat waktu bahkan lebih awal dari waktu yang ditetapkan. Semua anggota memiliki semangat yang tinggi dalam menyampaikan presentasi serta mampu mengajak para siswa untuk bergabung menjadi Duta Autisme.

You Might Also Like

0 komentar