Autism is not a Joke! Campaign #2

November 14, 2015

Duta Peduli Autis di Sekolah SMP Strada Bhakti Utama dalam
Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia




Kelas : LA46
Dosen : Christan Siregar 
Pukul : 08.00 s/d 09.00 WIB
Lokasi : SMP Strada Bhakti Utama, Jakarta Selatan

Daftar Hadir
Ketua : Felicia Yufi
Anggota :
1. Amelia Andriani
2. Devona
3. Ellyani Ngadina
4. Hendry
5. Hilda Kosasih
6. Kelvin Tanidja
7. Ronaldo Yolanda



Ronaldo-Felicia-Hendry-Amelia-Hilda-Devona-Ellyani-Kelvin
Pada mata kuliah character building: Agama kali ini, kami meyakini bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sederajat dimata Tuhan. Tuhan menciptakan manusia dengan unik dan berbeda satu sama lainnya. setiap manusia pasti memiliki suatu kelebihan maupun kekurangan yang harus disyukuri dalam hidup mereka. Tanpa kita sadari, disekitar lingkungan kita masih ada banyak orang yang memiliki kekurangan, salah satu contohnya adalah orang yang memiliki kekurangan dalam fisik yang membutuhkan perhatian lebih. Dalam nilai agama yang kita anut mengajarkan bahwa kita sebagai manusia harus saling mengasihi tanpa harus saling membeda-bedakan. Karena pada dasarnya kita sebagai manusia terlahir memiliki hak yang sama dan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia dan bernilai luhur.
Dengan nilai dasar agama yang kita miliki atas kesederajatan manusia di hadapan Tuhan, maka kami melaksanakan kegiatan kampanye autis kami yang kedua dengan tema yang sama yaitu "Autism is Not a Joke!" 
Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Oktober 2015. Kami berkumpul di Binus Alam Sutera pukul 06.00 WIB, kemudian kami menuju ke lokasi SMP Strada Bhakti Utama. Sesampainya disana, kami disambut oleh guru BK SMP tersebut, yaitu Ibu Sofi dan wakil kepala sekolah. Singkat cerita, kami pun memulai aktivitas kampanye kami kepada teman - teman kelas IX SMP Strada Bhakti Utama pada pukul 08.00 WIB. Materi yang diberikan berupa penjelasan mengenai autis, autis dilingkungan sekitar kita, kepedulian kita terhadap penderita autis, serta aksi kita untuk menghimbau kepada mereka bahwa ''autis" tidak boleh digunakan sebagai bahan candaan. 

Metode pengajaran yang diterapkan dalam kampanye ini adalah dengan presentasi di kelas dan diskusi untuk menyampaikan gagasan, dalam praktiknya kami juga memberikan ice break berupa games - games kecil yang membuat mereka lebih bersemangat. Kami juga mempertontokan video yang berisi himbauan dan ajakan kepada anak - anak untuk tidak menggunakan "autis" sebagai bahan candaan dan lebih peduli terhadap penderita autis. Hal positif diperoleh dari metode pengajaran adalah teman - teman kelas IX SMP Strada Bhakti Utama ini menyimak penyampaian materi yang diberikan dengan tenang, mereka juga memahami dan mengerti maksud dan tujuan dari kampanye ini. Hal yang masih kurang baik adalah pada saat kami mengajak mereka untuk lebih aktif dengan menyimpulkan isi dari materi, mereka masih terlihat pasif. Namun, mereka mau ikut terlibat dalam kegiatan ini dengan antusias mereka ikut serta mendaftarkan diri mereka sebagai Duta Autis. Kami berharap semoga pembelajaran yang kami sampaikan dapat berguna untuk teman - teman SMP Strada Bhakti Utama ini.






Pengukuran kinerja juga dilakukan melalui survey internal, pada pertemuan kali ini yang menjadi contoh dalam kelompok kami adalah Felicia Yufi karena dia memiliki disiplin waktu yang baik, dapat dilihat dia selalu datang tepat waktu pada meeting point yang telah dijanjikan sebelumnya. Felicia juga memiliki ide - ide yang menarik untuk menyampaikan materi, seperti mengajak bermain games kecil. Pada saat kampanye Felicia juga menunjukkan sisi antusiasme pada saat menyampaikan materi, penyampaian materi yang dijelaskan oleh Felicia pun mudah dimengerti, dia menggunakan kata - kata yang santai namun tidak keluar dari etika berbicara yang baik. Felicia memiliki sopan santun yang dapat menjadi contoh yang baik bagi anggota kelompok yang lain. Selain itu, Felicia adalah ketua kelompok sehingga perannya sebagai ketua kelompok dapat dijadikan role model yang baik bagi teman - teman yang lainnya. Sedangkan untuk anggota kelompok lainnya tidak ada evaluasi karena semuanya menunjukkan rasa semangat dan sopan santun dalam melaksanakan kegiatan kampanye ini.

Pada akhir kegiatan kami membuat perbandingan kepada siswa siswi SMP Strada Bhakti Utama mengenai pemahaman di awal sebelum kegiatan dan sesudah kegiatan. Salah satu siswi yang kami wawancara bernama Vania, pada awalnya Vania mengira bahwa autis itu merupakan suatu cacat yang diderita oleh orang-orang tertentu. Tetapi melalui kampanye yang kami lakukan, Vania jadi mengetahui apa arti autis sesungguhnya dan memahami bahwa seorang penyandang autis juga mempunyai perasaan yang harus kita jaga dan hargai. Vania memberikan pesan bahwa kampanye ini sangat bermanfaat dan semoga bisa lebih disebar luaskan kepada khalayak umum.
Vania memberikan kesan dan pesan
Lalu kami juga mewawancarai siswa yang bernama Marselinus, Marselinus mengatakan bahwa melalui kampanye yang kami lakukan dia jadi mengetahui bagaimana cara untuk menghadapi dan meperlakukan anak penyandang autis disekitar kita. Marselinus juga memberikan pesan untuk tidak menggunakan ''autis" sebagai bahan candaan lagi.
Marselinus memberikan kesan dan pesan

selain itu kami juga membuka pendaftaran bagi siswa-siswi yang berminat untuk mencalonkan dirinya menjadi duta autis. siswa-siswi Strada terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk mencalonkan dirinya sebagai duta autis. melihat antusias dari siswa siwi tersebut kami pun sangat senang, karena ternyata jiwa peduli anak-anak SMP sangat kental dan sangat ingin terjun dalam aktivitas ini. didapatkan data yang mendaftar sebagai duta autis sebanyak 29 murid dari 32 murid.




Kesimpulan yang kami dapat dari kegiatan ini adalah kegiatan ini sangat bermanfaat dan sangat membantu bagi autis disekitar kita. mungkin hanya hal ini yang dapat kami lakukan untuk menunjukan rasa kepedulian kami terhadap autis disekitar kita. namun kami percaya melalui kegiatan dengan menyebarkan informasi mengenai autis yang kami lakukan dapat membuat orang lain sadar akan kepedulian terhadap autis dan mau turut ikut serta dalam kegiatan ini. kami sebagai kelompok juga mempunyai perasaan kepuasan tersendiri dalam melaksanakan kegiatan ini, meski terdapat beberapa halangan dalam melaksanakannya. namun rasa gigih dan semangat tidak lepas dalam diri kami untuk menlaksanakan kegiatan Autism is not a joke ini. terdapat beberapa perbaikan yang perlu kami perbaiki, seperti datang pada tepat waktu dan lebih tangkas dalam melaksanakan kegiatan pada lain waktu berikutnya. kami berharap untuk kedepannya semua orang bisa lebih peduli terhadap autis dan tidak membeda-bedakannya.

"Autism is not a joke and we care autism..."



You Might Also Like

0 komentar