Autism is not a Joke! Campaign #4
December 11, 2015
Duta Peduli Autis di Sekolah SMP Strada Bhakti Utama dalam
Dosen : Christan Siregar
Pukul : 08.00 s/d 09.40 WIB
Lokasi : SMP Strada Bhakti Utama, Jakarta Selatan
Daftar Hadir
Ketua : Felicia Yufi
Anggota :
1. Amelia Andriani
2. Devona
3. Ellyani Ngadina
4. Kelvin Tanidja
5. Hilda Kosasih
6. Hendry
7. Ronaldo Yolanda
Mengenal Tuhan melalui sesama manusia. Tuhan itu ada tapi tidak dapat kita sentuh maupun lihat. Kita hanya dapat merasakan Tuhan melalui iman kita. Tapi apakah kita sudah mengenal Tuhan? Jawaban paling sederhana adalah kita belum mengenal Tuhan. mengapa demikian? Karena kita masih sering mengejek, ataupun mengolok sesama kita. Jika kita telah mengenal Tuhan, tidak akan ada tindakan mengolok ataupun mengejek teman-teman kita. Tuhan yang kita percayai, tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya meskipun dalam keadaan apapun termasuk teman-teman kita yang kurang beruntung. Tuhan menyayangi mereka, dan jika kita ingin mengimani Tuhan yang kita percayai, dapat dengan melakukan tindakan sederhana yakni tidak menjauhi teman-teman kita yang autis. Mereka sama seperti kita, ciptaan tuhan sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk mencela mereka. Karena mereka merupakan rupa Allah. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, makan dilakukanlah kampanye terakhir ini.
Kampanye terakhir kami dilaksanakan pada tanggal 12 November 2015, pada hari itu, kami berkumpul di Binus Alam Sutera dan menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam untuk mencapai ke SMP Strada Bhakti Utama. Sesampainya disana, kami menemui Ibu Sofi selaku guru BK, kemudian Ibu Sofi pun langsung mengantar kami menuju kelas yang akan kami beri pembekalan tentang “autism is not a joke” yaitu kelas IX-3 dan kami pun langsung melakukan persiapan untuk memulai presentasi.
Metode yang kami gunakan dalam kampanye ini adalah dengan presentasi dan berdiskusi, kami juga menampilkan video yang mendukung kampanye ini. Banyak dari mereka yang terlihat antusias dengan kampanye ini. Bahkan beberapa diantara mereka mengajukan diri sebagai duta autis sebelum kami membuka pendaftaran sebagai duta.
Pada saat kami memulai presentasi, teman-teman dari kelas IX-3 tampak membercandakan tentang autis, mereka tampaknya tidak paham akan arti autisme dan yang akan kami presentasikan. Lalu kami pun memulai presentasi, presentasi diawali dengan menjelaskan apa itu autisme yang sebenarnya, kemudian dilanjutkan dengan penyebab autisme, dan yang paling terpenting adalah mengapa autisme tidak boleh dijadikan sebagai bahan bercandaan. Disela-sela presentasi ada yang menanyakan bagaimana seharusnya tindakan jika kita bertemu anak autis dan kami pun menjawab “jika kita bertemu anak autis, sebaiknya kita tidak menjauhinya ataupun mengejeknya, kita harus mendampingi mereka, karena mereka sama seperti kita, mereka memiliki hati dan juga perasaan”. Setelah menjawab pertanyaan, kami pun menayangkan video yang mendukung tema kampanye kita. Selesai menayangkan video, Ibu Sofi yang semenjak awal mendampingi kita di kelas selama presentasi memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya untuk menguji pemahaman mereka akan “autism is not a joke”. Pertanyaannya berbunyi “bagaimana jika ada teman sekelas kalian yang autis?” salah satu murid pun menjawab “kita tidak boleh menjauhi mereka, kita justru harus menemani dan membimbing mereka dengan sepenuh hati”. Setelah mereka mendengarkan presentasi kami, teman-teman dari kelas IX-3 pun mulai paham apa itu autisme dan tidak menggunakannya sebagai bahan bercandaan.
Sebelum kami menutup presentasi, kami pun meminta perwakilan teman-teman dari kelas IX-3 untuk memberikan pesan apa yang mereka dapatkan setelah mengikuti kampanye ini. Dan Ibu Sofi pun menunjuk Gisela dan Kris untuk maju memberikan pesan. Pesan yang disampaikan oleh Gisela adalah “sekarang kita jadi mengerti bahwa kata “autis” bukanlah bahan untuk bercanda ataupun untuk diejek setiap hari, karena autis itu merupakan sebuah gangguan. Sekarang coba bayangin kita berada di posisi anak autis tersebut, lalu ada yang mengejek kita, pasti kita juga jadi ga enak saat ada orang yang menjadikannya sebagai bahan bercandaan. Jadi mulai sekarang, kita harus mulai untuk menghargai anak autis karena anak autis juga memiliki perasaan seperti kita pada umumnya.” Sedangkan, pesan yang disampaikan oleh Kris adalah “kita harus menghargai satu sama lain karena semua orang itu sama. Dengan adanya kampanye ini, sekarang kita mengerti bahwa kata autis tidak boleh digunakan dengan sembarangan dan kita harus menghargai anak autis juga”.
![]() |
| Gisela dan Kris memberi pesan |
![]() |
| Kami memiliki gerakan "autism is not a joke... |
![]() |
| .... and we care autism" |
![]() |
| Foto teman-teman dari kelas IX-3 dan Ibu Sofi |
![]() |
| Kami berfoto dengan teman-teman dari kelas IX-3 |
![]() |
| Kami berfoto dengan teman-teman dari kelas IX-3 |
Saat kami membuka pendaftaran duta autis, terdapat 31 murid dari 34 murid yang mendaftar menjadi duta autis, teman-teman dari kelas IX-3 terlihat sangat antusias.
![]() |
| Ronaldo. Hendry, Devona, Ellyani, Amelia, Hilda, Kelvin |
![]() |












0 komentar